dadanghermawan online

suatu hari di Bandung Selatan,………

Tanggapan terhadap Himbauan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat

Dalam Harian Galamedia, Sabtu tanggal 26 September 2009, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar, dr Alma Luchyati diberitakan menghimbau masyarakat untuk waspada terhadap penyakit diare yang biasanya muncul setelah bulan Puasa atau Lebaran.  Salah satu penyebabnya karena makanan Lebaran yang sering terus dipanaskan, seperti gulai, opor dan tumis,……dst

Saya sebagai masyarakat Jawa Barat sudah tentu menyambut positif himbauan tersebut dan melihatnya sebagai salah satu bentuk kepedulian dan perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap kesehatan masyarakatnya.

Namun nampak himbauan tersebut perlu untuk lebi diperjelas mengingat kalau dibaca sepintas himbauan di atas akan menimbulkan pertanyaan dan kepenasaran masyarakat khususnya masyarakat awam …mengapa makanan yang sering dipanaskan dapat menyebabkan diare? Bukankah kalau sering dipanaskan berarti kuman2 juga mati? Dsb, dsb.

Makanan ang dipanaskan atau sering dipanaskan tidak selalu dapat menimbulkan penyakit diare sepanjang proses pemanasannya dilakukan dengan benar dan higienis.   Bahan-bahan makanan yang tidak dipanaskan apalagi, berbagai jenis sayuran yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat Jawa Barat yang terkenal sangat menyenangi lalap-lalapan jelas sangat rawan mengandung cemaran biologis yang dapat menyebabkan diare.

Bahan makanan jadi, seperti gulai, opor, tumis dan sebagainya memang berpotensi untuk mengandung cemaran bakteri, dan sebagainya, salah satunya adalah bakteri-bakteri Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus yang bisa menghasilkan toksin yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan pada alat pencernaan atau lebih dikenal dengan penyakit diare.

Sebetulnya bakteri-bakteri tersebut akan mati melalui proses pemanasan dan pendinginan yang berlangsung cepat.  Proses pemanasan makanan yang dilakukan oleh ibu-ibu di rumah tangga umumnya kecil kemungkinan masih tersisanya bakteri-bakteri tahan panas tersebut, hal ini dikarenakan volume bahan yang dimasak umumnya sedikit sehingga makanan yang dipanaskan tersebut memerlukan waktu yang tidak relative lama untuk menjadi dingin.  Lain lagi apabila bahan yang dimasak ada dalam jumlah besar, maka proses pendinginan yang berlangsung cukup lama, NAH pada saat proses pendinginan yang lama inilah bakteri-bakteri tahan panas yang  mampu hidup kemudian  memperbanyak diri. Hal inilah yang kemungkinan mengakibatkan mengapa makanan-makanan yang disiapkan dalam jumlah banyak seperti yang dilakukan oleh catering-catering atau kesempatan-kesempatan kenduri yang dilakukan dengan tidak higienis seringkali menjadi penyebab terjadinya kasus-kasus keracuan makanan termasuk diare di Indonesia.  Kasus diare lewat makanan tidak hanya banyak terjadi di Indonesia saja, bahkan di Negara-negara yang sudah maju seperti America Serikat juga sering terjadi  angka kesakitan karena diare yang cukup tinggi, yang disebabkan oleh makanan tidak higienis pada sayuran yang tidak dimasak, biasanya sayuran selada yang diselipkan dalam burger.

Jadi yang sebenarnya dimaksud oleh Kadinkes Prov Jabar adalah bahan-bahan makanan yang dipanaskan dengan tidak benar dan tidak higienis adalah sangat rawan sebagai penyebab penyakit diare,..geeetoooh ya bu dokter.

Satu hal lagi yang cukup penting diketahui oleh masyarakat adalah,  perlu kehati-hatian bagi masyarakat yang suka mengkonsumsi makanan dalam kaleng (seperti misalnya : Sardines), karena proses pemanasan yang tidak tepat oleh pabrik bisa saja masih mengandung suatu jenis bakteri anaerob dan tahan panas yang sangat berbahaya dan sering dijumpai dalam makanan-makanan kaleng, yaitu Clostridium botulinum, bakteri ini menghasilkan toksin botulinum yang sangat beracun dan mematikan manusia karena menyerang jaringan saraf manusia.

Iklan

September 28, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Sistem Ranking Ciptakan Generasi Pintar tapi Antikritik

ANTARA NEWS.—Pendidikan di Indonesia yang masih melanggengkan sistem ranking di kelas tidak hanya menjadikan para pelajar yang “masuk ranking” tumbuh menjadi manusia yang merasa dirinya pintar, egois, dan tidak bisa menerima kritik, kata Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil. “Di Indonesia anak-anak pintar diberi ranking. Akibatnya anak-anak pintar di Indonesia menjadi sangat tidak menarik,” katanya pada acara ramah tamah dan dialog dengan puluhan mahasiswa dan warga masyarakat Indonesia di kampus Universitas Queensland (UQ), St.Lucia, kemarin. Akibat sistem ranking di kelas sekolah-sekolah Indonesia itu, para siswa berkemampuan biasa merasakan dirinya “loser” (pecundang) dan kondisi psikologis tersebut meruntuhkan rasa percaya diri yang sangat penting, katanya. Produk sistem pendidikan nasional yang menghasilkan anak-anak pintar namun tidak bisa menerima kritik itu telah dirasakan dampaknya oleh sejumlah lembaga pemerintah dan non-pemerintah. Sebagai contoh, Sofyan Djalil menyebut pengakuan sejumlah diplomat senior Departemen Luar Negeri RI tentang karakter sejumlah diplomat muda yang sekalipun pintar namun “sangat egois” dan “tidak bisa dikritik”. Di mata Sofyan Djalil, kekeliruan lain dari sistem pendidikan di Indonesia selama ini adalah tidak berkembangnya kreativitas anak didik. Dalam bagian lain ceramahnya, anggota Kabinet Indonesia Bersatu kelahiran Aceh 23 September 1953 ini juga mengeritisi pemberian dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang disebutnya sebagai “kebijakan yang salah” karena BOS diberikan ke setiap siswa tanpa kecuali. Menurut menteri yang masih aktif mengajar di Universitas Indonesia dan beberapa perguruan tinggi terkemuka lainnya ini, BOS seharusnya diperlakukan sebagai “selective subsidy” (subsidi terpilih) karena dengan adanya BOS, banyak orang tua murid tidak lagi merasa perlu membayar biaya pendidikan. Akibatnya kemampuan sekolah untuk membayar gaji para guru pun berkurang. “BOS lebih banyak merusak. Sistem sekolah gratis di daerah-daerah itu salah,” katanya. Doktor lulusan Sekolah Hukum dan Diplomasi Fletcher Universitas Tufts Amerika Serikat itu juga menggarisbawahi fakta tentang kemampuan berbahasa Inggris banyak lulusan yang diukur dengan standar TOEFL (Test of English as a Foreign Language) sebagai kendala para lulusan untuk mendapatkan tawaran beasiswa studi ke luar negeri. “TOEFL tidak siap. Bahasa jadi kendala,” kata mantan menteri Kominfo ini saat menjelaskan kendala umum bagi banyak pelamar program beasiswa studi ke luar negeri. Sofyan Djalil mengatakan, kemampuan berbahasa Inggris itu sepatutnya sudah dibenahi sejak sekolah lanjutan atas. Sofyan Djalil dan istri, Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc, berada di Brisbane untuk mengunjungi anak mereka yang kuliah di UQ. Di sela kunjungan pribadinya itu, Sofyan Djalil memenuhi undangan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di UQ (UQISA), Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) Queensland untuk bertatap muka dan berdialog dengan kalangan mahasiswa dan warga.(*)

September 27, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Bandung

Gempa Bumi Tektonik yang terjadi pada Rabu, 2 September 2009 Pukul 14.50 WIB hampir melanda seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Bandung.  Dari 31 kecamatan yang ada, hanya Kecamatan Cileunyi yang terbebas dari dampak guncangan gempa dengan kekuatan 7,3 Skala Richter tersebut.

Rumah yang hancur akibat gempa.

Rumah yang hancur akibat gempa.

Berdasarkan besarnya jumlah korban dan kerusakan, Kecamatan-kecamatan yang terparah mengalami gempa di Kabupaten Bandung meliputi : Pangalengan, Kertasari, Banjaran, Cimaung, Pasirjambu, Pacet, Cangkuang, Katapang, dan Baleendah.

Belasan penduduk tewas seketika, ratusan lainnya mengalami lukaluka. Puluhan ribu rumah penduduk Kabupaten Bandung mengalami kerusakan mulai dari rusak ringan, sedang, dan berat, bahkan ada beberapa bangunan rumah penduduk yang hancur rata dengan permukaan tanah.

Sampai dengan tanggal 14-9-2009, jumlah Korban Jiwa akibat Gempa di Kabupaten Bandung seluruhnya mencapai 24 orang, terjadi di 4 Kecamatan (Pangalengan 19 orang, Banjaran 2 orang, Cimaung 2 orang dan Kertasari 1 orang).

Dari jumlah tersebut tercatat 13 orang meninggal pada saat gempa akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan 11 orang lainya meninggal setelah menderita sakit pasca kejadian gempa.

Sedangkan jumlah Korban yang mengalami Luka pada saat gempa terjadi mencapai 681 orang, terjadi di 8 Kecamatan, dari jumlah tersebut tercatat:

Luka Berat :  102 orang
Luka Sedang :  197 orang
-Luka Ringan :  382 orang

Jumlah keseluruhan rumah penduduk yang mengalami kerusakan mencapai 41.675 rumah, terdiri dari Rusak Berat sebanyak 15.306 rumah; Rusak Sedang sebanyak 6.090 rumah, dan Rusak Ringan sebanyak 20.279 rumah.

Dilihat dari jumlah dan tingkat kerusakan rumah penduduk, terdapat 9 kecamatan yang mengalami kerusakan terparah, meliputi :

1.Pangalengan
2.Kertasari
3.Banjaran
4.Pasirjambu
5.Katapang

19.840 rumah

6.907 rumah

3.236 rumah

1.588 rumah

1.479 rumah

6. Cangkuang

8 Cimaung

9 Pacet

10 Baleendah

1.360 rumah

1.247 rumah

1.110 rumah

1.038 rumah

Sarana, Fasos/Fasum yang juga mengalami kerusakan akibat Gempa di Kabupaten Bandung, terdiri dari : Sarana Pendidikan umum sebanyak 1.541 ruang/kelas; Pendidikan agama sebanyak 42 ruang; Sarana Ibadah (masjid) sebanyak 447 buah; Kantor/Sarana Pemerintahan sebanyak 46 buah dan Sarana Kesehatan sebanyak 18 buah.

Jumlah total kerugian Bidang Keciptakaryaan yang meliputi; Rumah Penduduk, Sarana Pendidikan, Sarana Ibadah, dan Sarana Pemerintahan yang rusak akibat Gempa Bumi di Kabupaten Bandung, adalah senilai :

Rp 1.469.472.195.000,-

Upaya Tanggap Darurat yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bandung :

1.Pendirian Posko Bencana dan Posko Bantuan Logistik
2.Pendataan dan pelaporan
3.Penampungan dan pendistribusian Bantuan Logistik, meliputi ;
Selimut
Tenda dan Kasur bagi warga yang mengungsi
Makanan (Mie Instant, Beras), dan air minum
Makanan dan Susu Bayi serta keperluan wanita
Obat-obatan

4. Pelayanan Kesehatan bagi warga korban bencana di Posko Kesehatan.

5. Pemberian rujukan bagi warga yang sakit dan luka berat ke RSUD Soreang, RS Al-Ikhsan, dan RS. Hasan Sadikin dengan jaminan biaya pengobatan dan perawatan dari Pemerintah Kabupaten Bandung.

6. Penyelenggaraan Rapat-rapat Koordinasi dan Konsolidasi (sampai saat ini telah dilakukan 9 kali Rapat Konsolidasi, baik di lokasi gempa maupun di Pemkab. Bandung, mengenai evaluasi perkembangan penanganan, pencatatan, deteksi dini bagi warga korban, ketersediaan dan distribusi logistik, dsb)

7.Pelatihan 12 orang pengidentifikasi tingkat kerusakan bangunan dalam rangka inventarisir kerusakan bangunan akibat gempa. Muspika kecamatan melakukan pendataan ulang jumlah kerusakan bangunan berdasarkan kriteria yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat.
8.Pengusulan pembebasan pembayaran Raskin untuk bulan September ke Dirut Perum Bulog. Yang disetujui baru untuk kecamatan Pangalengan dan Kertasari
9.Bantuan + 150 orang tenaga medis yang terbagi kedalam 32 tim, serta + 200 orang paramedis. Sampai dengan sekarang telah terlayani sekitar 10.700 orang.
10.Pengoperasioan 20 buah ambulance dari puskesmas-puskesmas di Kabupaten Bandung serta 16 orang surveilance kesehatan sampai ke pelosok pengungsian untuk mendeteksi serangan penyakit
11.Pemenuhan kebutuhan air bersih di daerah gempa melalui pemasangan 32 unit hydran umum, mendirikan 15 unit WC umum, 1 unit IPAM Mobile kapasitas 0,5 liter/detik dan 1 unit kapasitas 5 liter/detik serta operasionalisasi 3 unit mobil tangki
12.Pembersihan di areal gempa serta pengamanan di titik-titik rawan di daerah gempa, tenda , jalan alternatif oleh 354 orang anggota TNI dan Polri.


September 17, 2009 Posted by | Berita | , , | Tinggalkan komentar